Senin, 13 Maret 2017

Catatan Hati Mahasiswi Tua

Ada beberapa cara orang dalam menghibur diri. Bisa jadi beda orang, beda cara. Kaya gue sekarang. Ditengah dilemanya gue nyari judul skripsi yang udah lima kali ganti, gue merefreshkan otak gue dengan nulis. Emang sih tulisan gue gak seberapa bagus, tapi dengan nulis, semua unek-unek dihati kayak hilang gitu aja.

Gue memutuskan nulis ketika gue memasuki fase-fase patah hati, kurang lebih dua setengah tahun yang lalu. Saat itulah awal-awal gue mengalami patah hati terhebat versi gue. Entah segimana sakit hatinya gue hingga muncul banyak kata-kata yang ingin gue ungkapkan. Dan salah satu caranya adalah dengan gue ngeblog. Saat itu gue gak peduli, mau orang nilai gue lebay atau apa juga yang penting gue lega. Dan setelah gue nulis, terbukti. Perasaan gue sedikit lebih baik. Sama kayak nahan kentut seharian, yang lega waktu udah keluar. Hihihi

Gue adalah mahasiswi semester akhir di salah satu universitas swasta. Sebagai mahasiswi semester tua, gue lagi dihadapkan dengan sebuah skripsi yang terkadang menghantui mahasiswa-mahasiswa kayak gue, yang niat gak niat kuliahnya. Nah gue jangan kan skripsinya, nyari judulnya aja udah bikin gue stress 50 keliling. Udah lima kali ngajuin judul kelima-limanya ditolak. Emang ya ternyata, kuliah finance itu gak mudah. By the way, kesulitan gue kuliah finance karena dari sekolah gue bukan jurusan yang begini-begini. Gue adalah seorang anak manusia yang tumbuh sebagai anak teknik namun masuk kelobang akuntansi. Ya, gue adalah lulusan sekolah menengah kejuruan jurusan perkapalan yang mengambil jurusan akuntansi saat masuk kuliah. Saya tau apa yang anda pikirkan “LARII BANGEETT”. Gue juga baru sadar, kayaknya waktu gue daftar kuliah, gue kesurupan hantu duit mabok sampai yang ada dipikiran gue adalah kuliah keuangan.

Giliran udah begini, satu-satunya cara ya berjuang sampai titik darah gak penghabisan (karna gue gak mau mati dan masuk Koran dengan judul gak matching “seorang mahasiswi universitas U meninggal karna nyari judul sampai titik darah penghabisan). Saat gue coba minta solusi judul kedosen, gue malah gak menemukan jawaban yang gue harapkan  ‘jadi saya harusnya judulnya yang gimana ya buk?’  ‘kamu faham akuntansi biaya?’  ‘enggak terlalu’  ‘kalau audit?’  ‘enggak faham buk’  ‘jadi kamu bisanya apa?’  ‘…..’
Disini gue merasakan, gue tiga tahun sekolah teknik yang banyak hitung-hitungannya, itu gak membuat gue pintar matematika maupun fisika. Dan sekarang gue ambil jurusan akuntansi, gak membuat gue pintar keuangan. Gue berfikir, sebenernya gue sekolah sama kuliah ini faedahnya apa? Kagak ada pinter-pinternya.

Gue punya banyak mimpi. Tapi satu-satunya mimpi yang merupakan gerbang dari mimpi yang lain dan yang paling susah gue taklukin adalah SKRIPSI. 
Continue reading Catatan Hati Mahasiswi Tua